Porosindonesia.co.id Wajo Sulsel – Kekosongan dokter di Kecamatan Keera terjadi sejak tiga tahun lalu. Saat ini, Puskesmas Keera hanya mendapat bantuan dokter dari Kecamatan Pitumpanua selama dua hari kerja.

Bagaimana mau memaksimalkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat kalau dokter tidak ada. Hal inilah yang mendasari KNPI bersama Karang Taruna Kecamatan Keera meminisiasi pertemuan serta dialog dengan warga bersama forkopimcam kecamatan keera untuk meminta kepada pemda agar ada dokter bertugas dan berdinas di Kecamatan keera.

Pertemuan tersebut dilaksanakan di Aula Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) Keera di kelurahan Ballere , Selasa, 16 Juni 2020 siang.

Acara tersebut dilanjutkan dengan Deklarasi Masyarakat Keera Siap Menerima dan Menjaga Dokter yang dihadiri utusan dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Kabupaten Wajo yang diundang secara khusus untuk menerima dan mendengar aspirasi masyarakat Keera. Bersama Forkopincam Keera juga hadir kepala Puskesmas Keera Ruslan,S.Kep,Ns.M.Kes, Kepala desa /lurah , tokoh masyarakat keera.

Ketua KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Keera Abdul Wahab Dai,S.S membacakan beberapa tuntutannya, yaitu meminta kepada Pemda Wajo menempatkan dokter di Puskesmas Keera untuk memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat Keera. Masyarakat Kecamatan Keera juga bersedia menerima dan menjaga siapapun dokter yang nantinya bertugas dan berdinas puskemas Kecamatan Keera. Serta meminta penyediaan sarana dan prasarana bagi dokter yang akan bertugas kepada pemda. Serta menolak isu adanya penolakan dan keengganan para dokter bertugas di Keera dan meminta pemerintah mempercepat peningkatan fasilitas di Puskesmas Keera.

‘’ Kami memohon maaf kepada para dokter yang pernah bertugas di Keera jika sekiranya ada sikap dan prilaku masyarakat Keera yang kurang berkenan. Meski tidak dapat dibuktikan, isu penolakan dan keengganan para dokter bertugas karena adanya isu horor yang sering menimpa dokter di Keera,’’ jelas Abdul Wahab Dai,S.S saat membacakan tuntutan deklarasi tersebut, Selasa,16/6/2020.

BACA JUGA :  Siaga karhutla 2020, Polda Kalteng Gelar Rakor Penanganan Dan Pencegahan Karhutla

Pada kesempatan tersebut Kepala Puskesmas Keera Ruslan ,S.Kep,Ns.M.Kes, menyampaikan bahwa selain dokter, Puskesmas Keera juga tak punya apoteker dan analis kesehatan. Padahal obat tidak dapat dikeluarkan tanpa persetujuan apoteker.

Sementara ketua LPMK Kelurahan Ballere, Hakim,SH menegaskan fasilitas di Puskesmas Keera sudah sangat perlu dibenahi dan ditingkatkan agar pelayanan kesehatan bisa maksimal kepada masyarakat. Pada saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Keera tahun lalu, seorang peserta sempat mengutarakan keluhannya kepada Wakil Bupati Wajo Amran SE yang hadir saat itu. Pada Musrenbang tahun ini, secara informal warga juga mengutarakannya ke Bupati Wajo Amran Mahmud perihal kekosongan dokter di Kecamatan Keera.

“ Kami meminta pemerintah mempercepat saja peningkatan fasilitas di Puskesmas Keera, misalnya rumah dinas dokter dan yang lainnya, Mungkin saja gegara fasilitas yang membuat mereka tidak betah,” harap Hakim SH yang juga tokoh masyarakat Keera.

Camat Keera Andi Ahmad Ridha ,S.STP dalam kesempatan tersebut menjelaskan, dia akan berusaha melanjutkan upaya – upaya yang telah dilakukan oleh camat sebelumnya untuk menghadirkan dokter di Puskesmas Kecamatan Keera.

“ Komunikasi telah saya buka kembali dengan Dikes (dinas kesehatan) kabupaten Wajo. Semoga ada jalan,” ucap camat yang baru beberapa hari dilantik tersebut.

Tahun ini, dalam pendaftaran CPNS pada formasi dokter, tak satupun yang memilih Puskesmas Keera sebagai calon wilayah tugas. Inilah yang menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat Keera, sehingga menduga – duga keengganan mereka bertugas di Keera, meski dugaan itu tidak dapat dibuktikan, tambahnya.

Dalam dialog tersebut, Kapolsek Keera Iptu Nasrul ,S.Sos menyampaikan siap mengamankan nantinya kalau ada dokter yang bertugas di Keera. Isu ketakutan dokter di Keera itu mitos.

BACA JUGA :  Ketum Penasehat M1R SS kota Depok Berkunjung ke Kantor DPP M1R SS H.Dedi Pelu

‘’ Memang kita tidak bisa mengabaikan cerita – cerita insiden yang pernah menimpa dokter di Keera. Namun tidak ada bukti yang valid bisa membuktikanya,” terangnya.

Diakhir acara tersebut surat pernyataan sikap Masyarakat Keera ditandatangani oleh ketua KNPI Keera Abdul Wahab , Agustan Ketua Karang Taruna Keera serta kepala Desa. Naska Deklarasi tersebut diserahkan ke dr Yudistira, perwakilan IDI.

Laporan Heri
Editor team biro wajo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here