Poros Indonesia, Jakarta – Sebelum pandemi Covid-19, kontribusi UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) mencapai 57,8%. Dan jika kita perhatikan dari tahun ke tahun, terus mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Sebaliknya usaha besar kian mengecil kontribusinya. Sayangnya, meskipun terus membesar, namun dari sisi penciptaan nilai tambah UMKM makin mengecil. Sementara usaha besar yang kontribusinya berkurang, nilai tambah dan produktivitasnya tetap tinggi.

Hal ini diungkapkan Jose Rizal, Ketua Umum Asprindo (Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia), saat dijumpai di Kampung Bahari Nusantara, Kawasan Wisata Mangrove Pulau Cangkir, Kec. Kronjo, Kab. Tangerang, Minggu (27/09/2020) Atas prakarsa.

DPC (Dewan Pengurus Cabang) Asprindo Kabupaten Tangerang; ” hari itu DPP (Dewan Pengurus Pusat) Asprindo hadir di Tangerang dalam rangka peninjauan pameran produk -produk UMKM anggota Asprindo, penanaman mangrove, dan penaburan 11 ribu benih ikan Bandeng dan Mujair Nila Salem.

Menurut Jose Rizal, kurangnya nilai tambah yang tercipta dari UMKM menyebabkan usaha mereka cepat rontok saat dihantam pandemi. “ Usaha yang persisten umumnya UMKM yang sudah memiliki nilai tambah. Karena nilai tambah memberikan keuntungan berlipat.

Sementara yang lain masih sebatas jualan – menjual barang apa adanya, dengan margin yang tipis. Belum memasuki fase pengembangan bisnis atau industri. Padahal sektor UMKM berkontribusi menyerap 97 persen tenaga kerja di Indonesia,” katanya.

Karena itu, menurut Jose, Asprindo menaruh konsen terhadap penciptaan nilai tambah ini. Menurutnya, UMKM tidak akan pernah bisa naik kelas jika tidak ada upaya – upaya untuk

menciptakan nilai tambah. Itu sebabnya Asprindo mencanangkan program, salah satunya, mengembangkan Kampung Industri. “ Kami bermimpi, suatu ketika setiap wilayah binaan Asprindo memiliki satu komoditas unggulan yang dikembangkan dengan sebuah ekosistem dimana terdapat industri plasma dan industri inti. Dengan cara ini komoditas unggulan itu tidak keluar wilayah atau masuk ke pasar sebelum memiliki nilai tambah.”

BACA JUGA :  Perluas Akses, Kementan Integrasikan Aplikasi Peta Ekspor ke Pasar Digital Global

Jose menambahkan bahwa dengan hantaman pandemi Covid-19 ini, sebagian UMKM melakukan penutupan usaha. Sisanya adalah penurunan permintaan, gangguan produksi/rantai pasok, dan sebagian lagi mengalami pembatalan kontrak. Asprindo berharap pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap persoalan ini, dan mempriotitaskan memberikan dukungan untuk ketahanan dan keberlangsungan UMKM. “ Jika UMKM rontok, maka kita akan berhadapan dengan persoalan pengangguran dan ikutannya, yakni penyakit – penyakit sosial lainnya,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here