DAERAH

Binus Jakarta gelar pembinaan desa wisata dikawasan desa Pasirmulya.

 

Poros Indonesia, Kabupaten Bandung – Guna mendorong desa Pasirmulya menjadi desa wisata, Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta melakukan pembinaan terhadap Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Gor desa Pasirmulya, kecamatan Banjaran, kabupaten Bandung, Rabu 22/12/2021.

Ketua MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka), Retno Dewanti S.Si.,M.M., .Ph.D mengatakan,” Dimana Kami dari Binus mengajukan proposal untuk bisa melaksanakan kegiatan hasil riset yang kemudian dilaksanakan dalam proses pendampingan kemasyarakatan.

“Program ini didanai oleh Kemendikbud Ristek Dikti, program ini adalah mengajak mahasiswa dan juga dosen untuk giat melakukan riset, setelah melaksanakan riset yaitu ada hasilnya, salah satu riset ini kebetulan saya juga melakukan penelitian dosen school business di Binus University, untuk program studinya adalah global business marketing,” ucap Retno di sela sela kegiatannya

Retno Dewanti S.Si.,M.M.,Ph.D juga menjelaskan,” Ketika saya melakukan riset yang kebetulan saya juga praktisi untuk di bidang CSR (Corporate Social Responsibility), dalam hal ini saya juga berkontribusi terhadap pengembangan kepariwisataan, saya turut terpanggil untuk bisa mengembangkan desa wisata yang saat ini menjadi program pemerintah, dimana untuk proses percepatan klasifikasi desa wisata itu ada yang disebut desa wisata rintisan, berkembang, maju mandiri.

“Ketika saya menjadi pemerhati desa wisata, untuk desa Pasirmulya yang sudah sering kita kembangkan, desa wisata ini mulai dari 2017 sampai sekarang ini, akhirnya banyak sekali perkembangan-perkembangan dan kita ingin suatu desa itu tumbuh berkembang,

Untuk tumbuh dan berkembang, saat sekarang yang dilakukan oleh pemerintah adalah banyak sekali untuk melakukan pelatihan-pelatihan SDM nya. Dan Binus dalam hal ini kelompok saya merasa terpanggil untuk ikut serta membangun bagaimana caranya mengevaluasi suatu klasifikasi desa pada percepatannya,

Kalo misalnya Pasir Mulya ini kita mulai memiliki ide-ide bagaimana caranya untuk bisa menjadi desa rintisan, harapannya ada standar nasional yang terpenuhi oleh kegiatan-kegiatan Pokdarwis dilakukan kegiatan-kegiatannya, kemudian di evaluasi lewat aplikasi,” paparnya.

Lebih lanjut kata Retno”, Aplikasi ini adalah hasil riset saya yaitu progressive and apps, kami membuat aplikasi tadi fungsinya adalah untuk dapat memonitoring evaluasi terhadap kinerjanya suatu desa, kalo missal Pokdarwis nya aktif, mereka mampu untuk terus menerus berkelanjutan bisa mengembangkan program-program nya, maka tentunya akan banyak sekali yang bisa di upload di aplikasi tadi.

“Dan itu akan menjadi bukti bahwa mereka memang memenuhi banyak sekali standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Jadi standar yang diterapkan oleh pemerintah itu terdiri atas delapan elemen untuk melakukan pengukuran klasifikasi desa wisata.

Delapan elemen tadi masih terbagi lagi menjadi 23 sub variable, dari 23 itu terbagi lagi menjadi 79 indikator, inilah yang kita masukan di dalam aplikasi tadi, dan dinilai oleh stakeholder lima elemen yang mendampingi desa yang pasti adalah komunitas-komunitas itu sendiri, karena komunitas yang harus menggerakan desa,” tandasnya.

BACA JUGA :   Saimah warga desa Pulosari senang akan kehadiran MCS BPJS hadir di desanya

Yang kedua adalah Dinas, dimana dinas pariwisata tentunya sebagai lembaga yang mengawasi dan mendampingi itu akan memonitor, melalui aplikasi tadi, tambahnya.

“Kemudian Universitas sebagai pendamping perguruan tinggi terhadap desa wisata, selanjutnya bisnis atau industri dimana mereka biasanya akan mendermakan CSR-nya ataupun bisnis-bisnis yang disekitar desa tersebut yang mereka ikut kontribusi di dalam perkembangan desa wisata.

Yang terakhir adalah media, media itu turut bisa memvalidasi, apakah betul sebenarnya di desa tersebut ada bukti-bukti perkembangan, contohnya kalau misalnya mereka mengklaim bahwa desa kami adalah bersih,” tuturnya.

Lebih lanjut, masih kata Retno, selain itu di desa tadi paling tidak mereka memiliki suatu atraksi, orang tertarik karena ada atraksi di tempat itu. Misalnya di situ ada latihan untuk latihan tari, atraksi itu akan membuat orang akan datang untuk latihan tari, sedangkan disini ada tari, pencak silat, sehingga bisa diminati.

Selain atraksi, kemudian juga ada aktifitas sehari-hari, masyarakat kan punya aktifitas sehari-hari,aktifitas itu sebenarnya juga bisa mengajak wisatawan untuk ikut serta.

Tadi saya memberikan contoh, kalau misalkan disini lebih banyak pertanian, yaitu pertanian kopi bagaimana mulai dari menanam, kemudian menyiangi, sampai memanen, memetiknya, memanggang dan yang lainnya, itu diberikan suatu proses edukasi.

Orang kan ingin untuk lihat juga, padahal itu aktifitas sehari-hari, selain itu juga bagaimana caranya agar bisa menyampaikan pada wisatawan agar mereka tahu bahwa di tempat kita memiliki tempat dan akses yang nyaman, itu bisa dilakukan.

Karena yang saya lihat sekarang, salah satu contoh di Mekarharkula itu parkirannya belum ada, tetapi hal itu tidak apa-apa, karena mobil itu bisa parkir di gedung budaya, kemudian disediakan delman dan delmannya itu bisa naik ke mekarharkula disitu disediakan misalnya resto, semua bisa duduk disitu, minum, makan, melihat matahari terbit dan terbenam. Sehingga bisa melihat Bandung dan sekitarnya dari Mekarharkula.

Sesampai disana, mereka pun untuk bisa melihat matahari tenggelam, mereka akan datang ke gedung budaya, dan disana ada pertunjukan. Setelah menikmati pertunjukan atau mungkin permainan tradisional di beberapa tempat yang bisa diikuti oleh pengunjung.

Setelah mereka bisa ke wisata rowan, di wisata rowan itu mereka bisa berkemah, duduk, atau melihat sungai ke bawah, itu bisa menjadi atraksi menarik dan itu semua bisa dibuat.

BACA JUGA :   Kades Katapang bersama Tim Bedas Jemput bola di Dusun IV desa Katapang sisir warga yang belum di Vaksin

Ketika itu semua dilayankan kepada masyarakat, Pokdarwis akan paham setelah dilakukan pelatihan bimbingan teknisnya, mereka akan mempromosikan sendiri segala sesuatu yang sudah di kembangkan dengan memasukannya ke berbagai sosial media sehingga akhirnya viral,” ucapnya

Jadi jika mereka dilatih untuk berbicara hal-hal yang baik dan positif menceritakan keunggulan di desa wisata kepada pengunjung, sehingga mereka tertarik.

Ketika mereka datang dan tertarik melihat penduduknya ramah, kemudian fasilitas lengkap, akhirnya mereka akan membicarakan kepada orang lain lagi melalui mulut ke mulut atau melalui sosial media sehingga banyak orang yang penasaran dan datang.

Nah, kalau sudah banyak orang yang datang, sudah siapkah Pokdarwis? Untuk itu sekarang kita akan membentuk Pokdarwis yang terlatih, sehingga ada surat keputusannya nanti dari Kades yang menyatakan masyarakat sudah menyetujui semua yang melibatkan LKMD, Musdes, dan lembaga yang lainnya.

Jika Pokdarwis ini tumbuh, banyak sekali kegiatan dan paket-paket wisata, tinggal koordinasi dengan agen wisata, kalau sudah berkembang, maka pada akhirnya kita akan mempersiapkan perekonomian yang lebih baik lagi. Dengan cara mengekspor kopi ataupun kirim melalui turis-turis yang datang.

“Dalam tiga hari ini, kami dari Binus melibatkan 46 orang yang terbagi di beberapa lokasi di Pasir Mulya. Kita sangat peduli dengan dunia pendidikan, karena Binus adalah lembaga pendidikan, kita ingin segala sesuatu yang ada di desa itu berkembang, masyaraktnya juga ikut serta dari anak balita sampai dewasa.

Kita mendidik mulai dari anak-anak SD dan SMP untuk rajin membaca terkait hal-hal wisata, sehingga mereka akan memahai apa itu wisata dari yang positif hingga negative, jadi mereka dapat mengetahuinya, karena ketika ada turis masuk pasti terjadi perubahan budaya dan mereka tidak terkontaminasi,” tutup Retno Dwanti.

Ditempat yang sama Sekdes Pasirmulya Sutisna mewakili Kades, mengatakan,” kegiatan ini diselenggarakan selama 3 hari, yakni dari 20 sampai 23 Desember 2022 guna mendorong desa Pasirmulya menjadi desa wisata.

“Ilmu-ilmu atau teknis dari binus melalaui Pokdarwis, ada 3 kegiatan di tempat berbeda, yakni Kampung Wangun, gedung budaya di aula, dan SD Sinarpagi,” tuturnya.

Sekdes menjelaskan,” di pilihnya Kampung Wangun karena ada tiga jenis kopi di Pasirmulya dari mulai kopi wangun, kopi puntang dan intina kopi.

“Kemudian di desa lebih condong ke sosialisas edukasi dan pelatihan kepada masyrakat yang diwakili oleh RW, BPD, perangkat desa, karang taruna, Kader inti. Selanjutnya di sekolah adalah edukasi dari mahasiswa Binus kepada pelajar dan guru-guru SD Sinarpagi,” ucapnya. ( A*A ).

Shares

BACA JUGA

Semarak Hari Kemerdekaan HUT RI Ke-77, Camat Pitumpanua buka Malam Kesenian.

Ade Darmansyah